Bangkok Trip

Mumpung masih gres kinyis – kinyis, mau cerita sedikit soal trip ke Bangkok pas lebaran kemarin.
Sebelumnya sih ga ada rencana mau ke mana – mana pas Lebaran, cuma kok ternyata tahun ini liburnya lama amat yak..
Kantor juga seminggu diliburin… Berasa ada yang kurang kalau libur lama gitu tapi ga ke mana – mana…

Jadi ya sudahlah, 2 minggu sebelum Lebaran kita cari – cari tiket, dan ternyata ke Bangkok ga terlalu mahal pas Lebaran. Naik Air Asia, 1 orang sekitar 3jutaan. Memang sih cuma 3 hari, tapi memang kita niatnya cuma mau kulineran aja and nothing specific to see / visit, jadi dirasa 3 hari saja cukup.

Berangkat dari Terminal 2E, sempet mau masuk lounge.. Biasa nyari gratisan.. Tapi ternyata kartu kredit saya sudah ga ada yang bisa dipakai buat masuk lounge.. Cape deh… Punya pak suami sih ada, tapi cuma bisa buat 1 orang. Ya sutralah akhirnya ga jadi. Kita makan aja di Old Town Coffee..

Sebenarnya tujuan utama nulis postingan ini tuh saya mau komplen. Kita terbang naik Air Asia, jadi mendaratnya di Bangkok itu di Don Mueang Airport. Sebelumnya kita pernah mampir sebentar dan jalan – jalan di Bangkok waktu ada layover yang cukup lama, dan itu melalui Suvarnabhumi Airport. Dan kita suka banget sama si Suvarnabhumi Airport ini karena besaaarr, banyak toko – toko dan tempat makan, dan proses imigrasinya cukup lancar.

Nah pas yang kemarin ini beda banget deh… Don Mueang Airport itu lebih kecil dan lebih jadul… Itunya sih ga masalah sih ya.. Tapi yang bener – bener bikin kesel itu antrian imigrasinya yang duileh panjangnya uda kayak antrian sembako…
Kita tuh antri 2 jam saja loh saudara – saudara… Diitung – itung petugas yang standby itu cuma 12 orang. Dan yang mau keluar imigrasi rasanya sih ratusan orang. Bener – bener semrawut.. Dan garis antrian pun ga jelas karena saking penuhnya orang. Jadi orang bisa antri di 3 baris tapi ternyata di ujung loketnya cuma ada 1 orang petugas.. Hadeuhh… Asli bikin esmosi dan lelah hayati…

Saya ga tau sih ya apakah kondisi seperti ini selalu terjadi di airport itu, atau memang pas saya kemarin itu kondisinya beberapa pesawat landingnya berbarengan sehingga numpuk antrian di imigrasinya… Cuma beneran deh, pengalaman kemarin itu the worst immigration ever.. Bahkan imigrasi di Jakarta masih jauhh lebih cepat. Dan biasalah, tipe saya ini kan ga sabaran dan paling sebal disuruh nunggu… Seperti biasa yang jadi sasaran ya pak suami tersayang hihihi… Untung si bapak emang uda tau watak saya jadi dengan super sabar dia ngadepin saya :p

Setelah 2 jam akhir lolos juga. Begitu keluar saya beli SIM card lokal dulu. Banyak kok pilihannya setelah keluar dari area bagasi. Saya pilih yang 199 baht (sekitar 80ribu rupiah), dapat paket data 1.5 GB selama 7 hari. Ada pilihannya yang lebih mahal tapi termasuk telpon lokal juga. Karena saya butuhnya hanya internet makanya ambil yang paling murah aja deh 😀
Saya sarankan untuk beli SIM card lokal saja karena jauh lebih murah jika dibandingkan roaming pakai provider Indonesia. Pak Suami yang males gonta – ganti SIM card milih roaming Telkomsel aja, dan dia harus bayar 275 ribu untuk 3 hari. Plus kuota yang didapat hanya 750 MB saja. Jadi jauh lebih murah dan untung jika beli SIM card lokal. Prosesnya pun mudah. Tinggal ke counter, pilih paket data dan nanti settingannya pun dikerjakan sama mereka.

Beres urus SIM card lanjut nyari taksi. Begitu sampai ke tempat taksi ya olohh.. Itu antriannya juga uda nguler ke mana – mana… Duh makjan… Masa mesti antri lagi berjam – jam?
Pak Suami saya suruh antri sementara saya coba cek – cek rute bus. Dan ternyata menuju ke hotel bisa pakai bus + kereta. Memang agak rempong dibanding naik taksi yang tinggal duduk manis trus sampai. Cuma daripada saya jadi gila gara – gara kelamaan antri mending naik bus saja deh.

Setelah lewat urusan yang bikin lelah itu no more complaint sih… Rute kita selama di sana itu hanya klutekan di daerah Siam saja. Memang sengaja pilih hotel di daerah situ dengan pertimbangan gampang kalau mau ke mana – mana karena dekat dengan stasium kereta. Dan ternyata memang kita hanya mainnya di daerah Siam saja. Mall hoping lah istilah kerennya hihihi… Ada Siam Center, Siam Paragon, Siam Square, Siam Discovery, MBK Center, dan jalan jauhan dikit ada Central World.

Overall kita cukup puas sama trip ke Bangkok ini. Walopun awalnya ga mengenakan tapi sisa tripnya ga mengecewakan kok. Kulinernya juga puas karena enak – enak dan murah – murahh.. Ke depannya sih mau balik lagi, karena mau nyoba kuliner di tempat yang beda 😀

Advertisements

Trying to Conceive – part 3

Akhirnya setelah selesai libur Lebaran kita balik lagi ke dr. Caroline dengan membawa hasil lab dari Klinik Pramita Matraman.

Menurut dokternya hasilnya semua normal. Well, mungkin ada sedikit perlengketan di saluran kiri saya. Kalau istilah dia sih, saluran kiri dan kanan paten (tidak ada penyumbatan), tapi yang kiri ada sedikit hambatan.

Hasil suami juga oke, dan diwanti – wanti sama dr. Caroline untuk ga merokok dan menjauhi asap rokok. Nah loh, udah dibilangin dari dulu kan supaya berhenti merokok tapi tetep aja bandel. Moga – moga kali ini pak suami sadar diri deh dan mau berhenti 😀

Setelah cek semua hasil, dr. Caroline tanya mau coba cara alami dulu selama 3 bulan atau tidak.
Dan kami berdua langsung mantap menjawab mau langsung inseminasi saja. Pertimbangannya sih simply faktor U (umur yak, bukan uang hihihi…)
Selama ini kami sudah mencoba alami tapi belum berhasil. Jadi ya sudahlah langsung hajar bleh.. Toh niatnya dari awal ke dr. Caroline memang mau inseminasi.

Kemudian dr. Caroline meresepkan beberapa obat yang harus diminum dan disuntik sebelum inseminasi dilakukan.
Ada 3 obat: Genoclom, Gonal dan Ovidrel. Genoclom bisa dibeli di apotek RS. Omni. Tapi untuk yang Gonal dan Ovidrel oleh dr.Caroline dirujuk untuk beli langsung di sales pabriknya. Kedua produk ini keluaran Merck Serono, sedangkan Genoclom diproduksi oleh PT. LAPI Laboratories.

Fungsi Genoclom adalah untuk merangsang hormon supaya sel telur yang dihasilkan banyak jumlahnya. Genoclom ini diminum mulai dari hari ke3 setelah mens keluar. Dosisnya sehari 2x, dan diminum selama 5 hari.
Kalau Gonal ini fungsinya merangsang sel telur supaya gendut – gendut 😀 😀
Gonal ini harus disuntik di bawah perut setelah Genoclom habis. Sehari 1x dan di jam yang sama tiap harinya selama 3 hari.
Ovidrel berfungsi untuk melepaskan sel telur yang sudah matang. Ini baru bisa dipakai setelah ada instruksi dari dr. Caroline.

Harga Genoclom tidak terlalu mahal, sekitar 110 ribu rupiah.
Yang lumayan mencekik leher itu yang Gonal, harganya 2.350.000 rupiah. Dan Ovidrel harganya 695.000 rupiah.
Pheww.. andaikan ada pohon duit yah… 😀

Hari ke 11 setelah mens pertama saya disuruh balik ke dr. Caroline untuk diUSG kondisi sel telurnya. Kalau oke, maka si Ovidrel bisa dipakai, dan hari ke 13nya inseminasi akan dilakukan.

Kelanjutannya akan ditulis di post selanjutnya ya…