Balada Tokopedia dan Gojek

Lebaran hampir tiba… Dan di suasana yang uda berasa liburan banget ini akhirnya dapat pengalaman yang kurang mengenakkan dengan platform belanja online yang namanya Tokopedia.

Saya pengguna Tokopedia uda dari lama, baik sebagai customer maupun seller. Dan sebelum ini belum pernah ada pengalaman yang jelek. Memang bener yah pepatah yang bilang “Never Say Never”. Akhirnya dapat juga kan itu pengalaman.

Pengalaman ini dengan posisi saya sebagai customer. Saya ada pesan barang kemarin, dan opsi pengiriman saya pilih menggunakan Gojek dengan pertimbangan supaya barang bisa langsung tiba hari itu juga. Alamat yang saya masukkan adalah alamat kantor karena rumah selalu kosong (saya dan suami sama – sama kerja kantoran).

Setelah melakukan pembayaran, seller kira – kira jam 12 siang sudah rikues untuk pick up Gojek. Ditunggu – tunggu sampai jam 4 sore tidak ada driver yang datang. Dan setelah dicek tracking, ternyata selama 4 jam itu sudah 3x enroute (ganti driver).

Mulai panik donk, karena kantor mentok juga jam 6 sore uda tutup, jadi ga ada yang bisa terima barang. Saya coba cari – cari call center Tokopedia, tapi ternyata ga ada yah. Selama ini memang belum pernah ada masalah jadi ga pernah ngeh kalau ternyata mereka tidak punya call center. Semua masalah harus disampaikan lewat aplikasi yang di mana sangat sangat tidak membantu apalagi di saat benar – benar perlu.

Untungnya seller yang ini sangat membantu sekali. Setelah bolak balik bertukar pesan, akhirnya seller bersedia mencoba menghubungi gojeknya untuk dicancel pick up hari itu dan diganti keesokan harinya. Dan ternyata bisa…

Hari ini jam 10 pagi seller sudah buka rikues ke Gojek untuk dipick up lagi. Dan yang menyusahkan lagi alamat pengiriman tidak dapat diganti. Jadi kalau sampai sore ga ada yang pick up kejadian kemarin bakal keulang lagi deh.

Dan ternyata suami juga mengalami hal yang sama. Kali ini dia dengan posisi sebagai seller. Sudah berjam – jam rikues pick up tapi tidak ada driver yang pick up.

Saya sempat gugel waktu mencari call center Tokopedia, ternyata memang sengaja ditiadakan. Ini sih menurut saya parah ya, apalagi untuk ukuran platform sebesar Tokopedia yang iklannya juga gencar. Kalah jika dibandingkan platform lain yang di mana customer servicenya sangat cepat responnya.

Moga – moga drama perpaketan ini cepat berlalu deh jadi saya bisa liburan dengan tenang..

Trying to Conceive – part 2

Setelah kunjungan pertama ke dr. Caroline, saya booking jadwal ke Klinik Pramita untuk saya di seminggu ke depan, sedangkan untuk suami lebih awal, di minggu itu juga.

Kenapa tidak barengan? Well karena untuk HSG harus menunggu sampai saya selesai mens, sedangkan kalau suami kapanpun bisa (asalkan dalam waktu 3 – 5 hari puasa hubungan dulu ya :D)

Biaya tes sperma untuk suami adalah IDR 339.000. Hasilnya bisa diambil sore itu juga. Tapi berhubung malas untuk kembali ke sana dan toh minggu depannya giliran saya ke sana, maka hasilnya biar saya saja yang ambil.

Pas giliran saya, saya booking untuk jam 9 pagi karena itu jam paling pagi yang bisa dibooking untuk HSG. Sedangkan kalau untuk tes darah jam berapapun bisa selama sesuai jam operasional kliniknya ya tentunya.

Untuk menghindari macet (FYI, saat ini di perempatan Matraman sedang macet-macetnya karena ada pembangunan underpass), saya sengaja berangkat agak pagian.
Lebih baik nunggu di sana daripada kena macet kelamaan deh.
Tiba di sana jam 7.45, dan parkiran masih sepi.

Kesan pertama begitu masuk wah ternyata besar ya dalamnya. Selama ini biasanya saya kalau cek – cek gitu ke Prodia. Jauh bener bentukan kliniknya dibanding Prodia 😀

Langsung dibantu oleh petugas untuk ambil nomor antrian, dan ga pake lama langsung dipanggil nomor saya.
Oleh petugas ditanya saya mau cek apa, dan surat rujukan dari dr. Caroline saya kasih ke mbaknya untuk diinput.
Saya sempat tanya apakah bisa jika pembayaran dengan asuransi, namun sayang sekali menurut mbaknya saat ini Klinik Pramita belum ada kerjasama dengan asuransi.

Yang agak bikin shock itu setelah selesai diinput, mbak petugasnya menginfokan total biaya yang harus dibayar, yaitu sejumlah IDR 6.073.000.
Alamakjan, mahal juga yah. Karena pengalaman dulu waktu tes – tes sebelumnya rasanya biayanya tidak semahal itu.
Tetapi ya sudahlah, demi calon dedek tersayang.

Begitu pembayaran selesai, dikasih nota yang ada rincian biayanya. Ternyata yang bikin tinggi biayanya itu tes darahnya. HSGnya sendiri “cuma” sekitar 1 jutaan.
#pheww #langsungpuasagabelanjasebulan

Untitled

Berhubung HSG baru bisa dilakukan jam 9 maka tes darah dulu aja. Setelah beres bayar-bayaran, duduk sebentar, ga lama dipanggil giliran buat diambil darah.

Selesai ambil darah saya pakai obat yang dikasih sama dr. Caroline. Obat ini harus dimasukkan melalui du*ur. Fungsinya sih sebagai anti nyeri, jadi biar ga terlalu sakit kali yah ntar kalau diobok-obok :p

Setelah itu nunggu deh sampai dipanggil. Hari itu kayaknya yang HSG saya doank deh. Jadi dapat urutan pertama. Ada form persetujuan yang harus ditandatangani sebelum prosedur dilakukan.

Kira – kira jam 9.15 akhirnya dipanggil masuk. Baju harus dicopot dan diganti dengan baju khusus, kemudian disuruh rebahan di atas “tempat tidur” kaca. Nunggu dokternya sekitar 10 menit, kemudian mulai prosedur.

Kalau ada yang kepikiran, HSG itu sakit ga sih?
Well, sebenarnya sakit sih ngga ya. Apalagi kan uda ada pakai obat anti nyeri sebelumnya. Lebih ke perasaan ngilu dan ga nyaman aja kalau menurut saya.
Dan saya ini tipe orang yang punya toleransi rendah terhadap sakit hehe…

Jadi prosesnya kira – kira seperti ini. Pertama dimasukkan alat semacam selang. Nah untuk masukkinnya ini yang bagian bawah kita diobok-obok. Setelah masuk, nanti dilihat di layar rontgen, dan disemprotkan cairan. Pas proses ini berasanya mules. Tapi begitu selesai ya udah ilang aja mulesnya.

Lama prosedur kira – kira 30 menit kali ya. Sempet ngulang masukkin selangnya karena pas pertama masukkin ada yang bocor. Hadeuh… Demi deh demi…

Hasil HSG bisa diambil sore itu juga sebenarnya. Namun untuk tes darahnya hasilnya baru selesai dalam 4 hari kerja. Jadi ya nanti sekalian aja deh ambil hasil tesnya.
Dan pengambilan tes bisa pakai Gojek juga. Tinggal diinfokan saja nama kita dan nomor labnya.

Oh dan hasil tes sperma suami sudah bisa diambil. Puji Tuhan hasilnya dinyatakan Normozoospermia, yang artinya semuanya normal.

Tinggal saya aja yang dagdigdug menunggu hasil minggu depan..

Update akan ada di post selanjutnya ya..

Trying to Conceive – Part 1

Setelah hampir 3 tahun menikah, inseminasi 2x dan keguguran 1x, akhirnya kita memutuskan untuk mencoba program hamil dengan dr. Caroline Tirtajasa di Rumah Sakit Omni Pulomas.

Sebelumnya saya sudah pernah menjalani program inseminasi 2x, tetapi dengan dr. Stella Shirley Mansyur di Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading.
Inseminasi pertama gagal, tapi sebulan setelah itu sempat hamil normal. Cuma sepertinya Tuhan berkehendak lain, karena janin kami hanya mampu bertahan sampai usia 7 minggu saja. Dan saya memilih proses kuret untuk mengeluarkan janin tersebut.

3 bulan setelah dikuret kami mencoba inseminasi lagi dengan dr. Stella, tetapi sayangnya tidak berhasil juga.

Setelah cari – cari info, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba ke dr. Caroline karena banyak kisah sukses yang ditangani beliau. Barangkali kami juga bisa berhasil.

Kunjungan pertama kami lakukan minggu lalu dengan membawa hasil tes – tes yang sebelumnya sudah pernah kami jalani. Tetapi karena tes tersebut sudah lebih dari 1 tahun, dr. Caroline meminta kami untuk melakukan tes ulang supaya hasil lebih akurat.
Tes yang perlu kami ambil adalah sperma untuk suami, HSG dan cek darah untuk saya.
Dan dr. Caroline hanya percaya dengan klinik Pramita yang ada di Matraman.
Untuk HSG disarankan dilakukan secepatnya setelah mens saya selesai. Dan untuk tes HSG ini perlu booking dulu sebelumnya ya.

Oleh dr. Caroline juga diresepkan obat yang perlu diminum mulai 1 hari sebelum HSG dan yang perlu dimasukkan melalui du*ur 1 jam sebelum HSG.
Total biaya kunjungan pertama ini sekitar 1.3 jt. Puji Tuhan ternyata masih bisa dicover semua oleh asuransi kantor suami 🙂

Kami juga diresepkan suplemen yang harus diminum tiap hari (suami istri): Tonicard, Eturol, dan Fetavita. Suplemen ini diproduksi oleh PT. Dipa Pharmalab. Karena suplemen ini belum tersedia di RS. Omni, pembeliannya dilakukan melalui sales pabriknya langsung (kontaknya diberikan oleh dr.Caroline sendiri).
Total biaya suplemen untuk konsumsi 1 bulan adalah sekitar 1.7 jt.

Mengenai tes di Pramita dan biayanya akan saya lanjutkan di post berikutnya.